Just another wordpress weblog.

Kimia Hijau (Green Chemistry)

31
Mar

Kemajuan teknologi dan industri kimia yang berkembang pesat disadari menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Dalam beberapa proses, reaksi kimia memegang peranan penting sehingga faktor produktifitas proses industri kimia diarahkan untuk mendapatkan hasil sintesis sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan efek yang ditimbulkan seperti dihasilkannya residu bahan kimia serta konsumsi energi yang sangat tinggi.
Industri kimia menyumbang 7% dari pendapatan global dan 9% perdagangan global, dengan 80% dari output dunia diproduksi oleh 16 negara. Produksi diproyeksikan meningkat 85% pada tahun 2020 dan hal ini akan makin meningkat seiring peningkatan pendapatan perkapita. Selama setengah abad terakhir, pertumbuhan yang besar diiringi dengan pertumbuhan volume penggunaan bahan petrokimia dan menyesuaikan kebutuhan industri farmasi. Keseluruhan produksi telah bergeser dari komoditas utama bahan kimia untuk rumah tangga dan bahan kimia khusus. Beberapa masalah seperti ketersediaan bahan baku petrokimia, masalah lingkungan, pelepasan bahan beracun, penipisan bahan tak terbarukan, masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang akibat paparan bahan kimia dari masyarakat untuk bahan kimia, pelarut, dan masalah keamanan adalah hal yang patut dipertimbangkan selain keuntungannya.

Terdorong oleh hal tersebut, dalam dasawarsa terakhir konsep kimia hijau (green chemistry) menjadi topik sentral dalam perkembangan seluruh aspek kimia termasuk kimia organik sintesis. Kimia hijau melibatkan pengurangan, atau penghapusan, penggunaan zat berbahaya dalam proses kimia atau pelepasan dan munculnya intermediet atau produk berbahaya atau beracun meliputi bahan baku, reagen, pelarut, produk, dan produk sampingan. Selain itu kimia hijau juga mencakup penggunaan bahan baku dan sumber energi berkelanjutan untuk proses manufaktur (Anastas dan Warner, 1998; Anastas dan Lankey, 2000, 2002; Anastas et al., 2001).
Kimia hijau dan berkelanjutan sendiri merupakan konsep yang baru muncul di awal 1990-an, memperoleh perhatian dan dukungan yang lebih luas. Kimia hijau dan berkelanjutan kimia menyangkut pengembangan proses dan teknologi yang menghasilkan lebih banyak reaksi kimia yang lebih efisien dan menghasilkan limbah dan emisi gas buang yang lebih sedikit dibandingkan kimia tradisional. Kimia hijau mencakup semua aspek dan jenis kimia proses yang mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan (Graedel, 2001). Dengan mengurangi atau menghilangkan penggunaan atau pelepasan zat berbahaya yang berhubungan dengan sintesis tertentu atau dari suatu proses, ahli kimia dapat sangat mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Kimia hijau didasarkan pada 12 prinsip yang harus dipegang oleh suatu perencana proses industri/reaksi kimia :
Prinsip 1 - Perencana harus berusaha untuk memastikan bahwa semua materi, input dan output energi inheren satu sama lain dan tidak menimbulkan efek berbahaya
Prinsip 2 - Perencana mendesain proses yang menghindari adanya sampah (waste), lebih baik menghindari adanya sampah atau residu daripada penanggulangan atau pengolahannya setelah terbentuk dari suatu proses
Prinsip 3 – Perencana melaksanakan pemisahan dan pemurnian sebagai satu komponen dari rancangan proses produksi
Prinsip 4 – Komponen sistem produksi harus dirancang untuk memaksimalkan massa, energi dan efisiensi.
Prinsip 5 – Komponen sistem produksi harus mempertimbangkan penggunaan energi dan bahan.
Prinsip 6 – Pertimbangan entropi dan kompleksitas dalam rancangan sehingga menentukan pilihan desain pada penggunaan kembali, daur ulang atau bahan pengganti yang menguntungkan serta ekonomis.
Prinsip 7 – Ketahanan proses adalah target
Prinsip 8 –mempertimbangkan komponen-komponen sehingga menghasilkan "satu ukuran cocok untuk semua” (one size fits all).
Prinsip 9 – Rancangan yang meminimalkan keragaman materi
Prinsip 10 –Desain proses dan sistem harus mencakup integrasi interkonektivitas antara energi dan bahan
Prinsip 11 – Rancangan menyediakan ukuran kinerja yang sinambung
Prinsip 12 – Penggunaan bahan terbarukan.

Selanjutnya, prinsip-prinsip tersebut patutlah untuk digunakan dalam setiap aktivitas.

Adsorpsi dan Katalisis Menggunakan Material Berbasis Clay

30
Mar

Ads Katal

Adsorpsi dan Katalisis Menggunakan Material Berbasis Clay

ISBN : 978-602-262-127-0
Harga : Rp 78.800,00
Halaman : XIV+172

Sinopsis :
Buku ini merupakan rangkuman dari penelaahan puluhan penelitian penting dalam bidang modifikasi Clay sebagai material katalis dan adsorben. Dengan latar belakang bahwa potensi sumber daya mineral Clay/lempung di Indonesia yang melimpah sementara pemanfaatannya dalam industri strategis belum banyak dieksplorasi, buku ini menyajikan rangkaian penelitian-penelitian modifikasi kimiawi Clay yang secara signifikan dapat diperankan dalam berbagai industri kimia maupun farmasi.
Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi setiap pembaca, khususnya di bidang kimia, teknik kimia, dan farmasi yang berkaitan dengan modifikasi Clay.

Kinetika Kimia

30
Mar

978-979-756-919-8-923

ISBN : 978-979-756-919-8
Harga : Rp 96.800,00
Halaman : VIII+206
KINETIKA KIMIA

Sinopsis :
Kinetika Kimia adalah buku yang secara komprehensif menuntun pembaca mempelajari secara runtut prinsip-prinsip kinetika, pengertian dasar laju reaksi, orde reaksi dan konstanta laju reaksi, pembahasan mengenai beberapa model kinetika kimia, pengolahan data eksperimen untuk menentukan kinetika sebuah reaksi, teori tumbukan efektif, serta kinetika reaksi terkatalisis. Buku ini disusun dengan harapan dapat menjadi pegangan mahasiswa yang menempuh studi di Prorgam Studi Ilmu Kimia, Teknik Kimia, D3 analis kimia serta panduan penelitian berbasis kajian kinetika reaksi.